Translate

Rabu, 17 Januari 2018

Bahasa dan Masyarakat (1) Bahasa dan Tutur

Bahasa dan Masyarakat (1) Bahasa dan Tutur

1.      Bahasa dan Tutur
Ferdinand de Saussure membedakan antara yang disebut langage, langue, dan parole. Ketiga istilah itu berasal dari bahasa Prancis dalam bahasa indonesia lazim dipadankan dengan bahasa. Dalam bahasa Prancis langage digunakan untuk menyebut bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang digunakan mkanusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal diantara sesamanya. Langage bersifat abstrak.

Langue merupakan sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasih dan berinteraksi sesamanya. Langue juga bersifat abstrak.
Parole adalah pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran atau tuturan yang dilakukan oleh para anggota masyarakat di dalam berinteraksi atau berkomunikasi sesamanya. Parole bersifat konkret.
Sebagai langage bahasa bersifat universal, sebab dia adalah satu sistem lambang bunyi yang digunakan manusia pada umumnya bukan manusia pada suatu tempat tau suatu masa tertentu. Tetapi sebagai langue bahasa itu, meskipun ada ciri-ciri keuniversalannya, bersifat terbatas pada satu masyarakat tertentu.


Bahasa sebagai langue dapat terdiri dari sejumlah dialek, dan setiap dialek terdiri dari jumlah idiolek. Namun perlu dicatat bahwa dua buah dialek yang secara linguistik adalah sebuah bahasa, karena anggota dari kedua dialek itu bisa saling mengerti, tetapi secara politisi bisa disebut sebagai dua buah bahasa yang berbeda. Contohnya bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia.

Chair, Abdul. 2010. Sosiolinguistik Pengenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta

Keistimewaan Bahasa Manusia

Keistimewaan Bahasa Manusia

1.      Bahasa manusia menggunakan jalur vokal auditif.
2.      Bahasa manusia dapat tersiar kesegala arah, tetapi penerimanya terarah.
3.      Lambang bahasa berbunyi cepat hilang setelah diucapkan.
4.      Partisipan dalam komunikasi bahasa saling berkomunikasi.
5.      Lambang bahasa itu dapat menjadi umpan baik yang lengkap.
6.      Komunikasi bahasa mempunyai spesilisasi. Maksudnya, manusia dapat berbicara tanpa harus menggerakkan fisik mendukung proses komunikasi itu.
7.      Lambang-lambang bunyi  dalam berkomunikasi bahasa adalah bermakna atau merujuk pada hal-hal tertentu.
8.      Hubungan antara lambang bahasa dengan maknanya bukan ditentukan oleh adanya suatu ikatan antara keduanya, tetapi ditentukan oleh suatu persetujuan atau konvensi di antara para penutur suatu bahasa.
9.      Bahasa sebagai alat komunikasi manusia dapat dipisahkan menjadi unit satuan-satuan, yakni kalimat, kata, morfem, dan fonem.
10.  Rujukan atau yang sedang dibicarakan dalam bahasa tidak harus selalu ada pada tempat dan waktu ini.
11.  Bahasa bersifat terbuka, artinya lambang-lambang ujaran baru dapat dibuat sesuai dengan keperluan manusia.
12.  Kepandaian dan kemahiran untuk menguasai aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan berbahasa manusia diperoleh dari belajar bukan dari gen-gen yang dibawa sejak lahir.
13.  Bahasa dapat dipelajari.
14.  Bahasa dapt digunakan untuk menyatakan yang benar dan yang tidak benar atau juga yang tidak bermakna secara logika.
15.  Bahasa memiliki dua subsistem yaitu subsistem bunyi dan subsistem makna, yang memungkinkan bahasa itu memilikiki keekonomisan fungsi.

16.  Bahasa itu dapat digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri.

Chair, Abdul 2010. Sosiolinguistik Pengenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta

Selasa, 02 Januari 2018

Komunikasi Bahasa

Dalam setiap komunikasi bahasa ada dua pihak yang terlibat yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima (receiver). Ujaran (berupa kalimat atau kalimat-kalimat)yang digunakan untuk menyampaikan pesan (berupa gagasan, pikiran, saran, dan sebagainya) itu disebut pesan. Dalam ini pesan itu tidak lain pembawa gagasan yang disampaikan pengirim (penutur) kepada penerima (pendengar). Setiap proses komunikasi bahasa dimulai dengan si pengirim merumuskan terlebih dahulu yang ingin di ujarkan dalam satu gagasan. Proses ini di kenal dengan istilah semantic encoding. Gagasan itu lalu disusun dalam bentuk kalimat atau kalimat-kalimat yang gramatikal, proses pemindahan gagasan ke dalam bentuk kalimat yang gramatikal ini disebut  grammatical encoding). Setelah tersusun dalam kalimat yabg gramatikal, lalu kalimat (yang berisi gagasan tadi) diucapkan. Proses ini disebut (phonological encoding). Selanjutnya proses ini diikuti oleh proses grammatical decoding dan diakhiri dengan proses semantic decoding.

Dalam praktiknya urutan-urutan ini berlangsung dengan cepat. Lebih-lebih jika yang terlibat dalam proses komunikasi itu mempunyai kemampuan berbahasa yang sangat tinggi. Semakin tinggi kemampuan berbahasa dari kedua pihak yang berkomunikasi itu, maka semakin lancarlah proses komunikasi yang sudah di sebut sebelumnya, dapat juga mengalami hambatan karena adanya unsur gangguan, misalnya ketika komunikasi itu berlangsung terjadi kebisingan suara, atau satu pihak yang berkomunikasi mempunyai pendengaran yang kurang baik.

Ada dua macam komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi se arah, si pengirim tetap sebagai pengirim dan si penerima tetap sebagi penerima. Komunikasi searah ini terjadi misalnya dalam komunikasi yang bersifat memberitahukan, khotbah di mesjid atau gereja, ceramah yang tidak diikuti tanya jawab, dan sebagainya. Dalam komunikasi dua arah, secara berganti-ganti si pengirim bisa menjadi penerima, dan penerima bisa menjadi si pengirim. Komunikasi dua arah ini terjadi misalnya dalam rapat, perundingan, diskusi, dan sebagainya.

Bahasa itu dapat mempengaruhi perilaku manusia. Maka kalau si penutur ingin mengetahui respon si pendengar terhadap tuturannya, dia biasa melihat umpan balik, yang dapat berwujud perilaku tertentu yang dilakukan pendengar setelah mendengar tuturan si pendengar. Dengan demikian, umpan balik berfungsi sebagai sistim mengecek respon, yang jika diperlihatkan si penutur dapat menyesuaikan diri dalam menyampaikan pesan/tuturan berikutnya. Tentu saja umpan balik ini hanya ada pada komunikasi yang bersifat dua arah.
Sebagai alat komunikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek, yaitu aspek linguistik dan aspek nonlinguistik atau paralinguistik. Kedua aspek ini “bekerja sama” dalam membangun komunikasi-komunikasi itu. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis, dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya yang akan disampaikan yaitu semantik (yang dalamnya terdapat makna, gagasan, ide, atau konsep). Aspek paralinguistik mencakup (1) kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang , seperti falseto(suara tinggi), staccato (suara terputus-putus) dan sebgainya. (2) unsur suprasegmental yaitu tekanan (stres), nada (pitch) dan intonasi. (3) jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti gerakan tangan, anggukan kepala, dan sebagainya. (4) rabaan, yakni yang berkenaan dengan indera perasa (pada kulit).

Aspek linguistik dan paralinguistik tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi bersama-sama dengan konteks situasi membentuk atau membangun situasi tertentu dalam proses komunikasi. Komunikasi bahasa atau komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai alatnya mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan jenis komunikasi lainnya, termasuk komunikasi yang berlaku pada masyarakat hewan. Komunikasi dengan gerak isyarat tangan yang berlaku untuk orang bisu tuli dan komunikasi membaca gerak bibir yang juga berlaku untuk orang bisu tuli sudah tidak dapat digunakan lagi dalam keadaan gelap atau tidak ada cahaya, karena kedua jenis komunikasi itu sangat mengandalkan penglihatan mata untuk menangkap dan memahami bahasa gerak tangan dan bahasa bibir itu. Sedangkan komunikasi bahasa masih dapat digunakan meski dalam keadaan gelap sekalipun.