Dalam setiap komunikasi
bahasa ada dua pihak yang terlibat yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima (receiver).
Ujaran (berupa kalimat atau kalimat-kalimat)yang digunakan untuk menyampaikan
pesan (berupa gagasan, pikiran, saran, dan sebagainya) itu disebut pesan. Dalam
ini pesan itu tidak lain pembawa gagasan yang disampaikan pengirim (penutur)
kepada penerima (pendengar). Setiap proses komunikasi bahasa dimulai dengan si
pengirim merumuskan terlebih dahulu yang ingin di ujarkan dalam satu gagasan.
Proses ini di kenal dengan istilah semantic
encoding. Gagasan itu lalu disusun dalam bentuk kalimat atau kalimat-kalimat
yang gramatikal, proses pemindahan gagasan ke dalam bentuk kalimat yang
gramatikal ini disebut grammatical encoding). Setelah tersusun
dalam kalimat yabg gramatikal, lalu kalimat (yang berisi gagasan tadi)
diucapkan. Proses ini disebut (phonological
encoding). Selanjutnya proses ini diikuti oleh proses grammatical decoding dan diakhiri dengan proses semantic decoding.
Dalam praktiknya
urutan-urutan ini berlangsung dengan cepat. Lebih-lebih jika yang terlibat
dalam proses komunikasi itu mempunyai kemampuan berbahasa yang sangat tinggi.
Semakin tinggi kemampuan berbahasa dari kedua pihak yang berkomunikasi itu,
maka semakin lancarlah proses komunikasi yang sudah di sebut sebelumnya, dapat
juga mengalami hambatan karena adanya unsur gangguan, misalnya ketika
komunikasi itu berlangsung terjadi kebisingan suara, atau satu pihak yang
berkomunikasi mempunyai pendengaran yang kurang baik.
Ada dua macam
komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam
komunikasi se arah, si pengirim tetap sebagai pengirim dan si penerima tetap
sebagi penerima. Komunikasi searah ini terjadi misalnya dalam komunikasi yang
bersifat memberitahukan, khotbah di mesjid atau gereja, ceramah yang tidak
diikuti tanya jawab, dan sebagainya. Dalam komunikasi dua arah, secara
berganti-ganti si pengirim bisa menjadi penerima, dan penerima bisa menjadi si
pengirim. Komunikasi dua arah ini terjadi misalnya dalam rapat, perundingan,
diskusi, dan sebagainya.
Bahasa itu dapat
mempengaruhi perilaku manusia. Maka kalau si penutur ingin mengetahui respon si
pendengar terhadap tuturannya, dia biasa melihat umpan balik, yang dapat
berwujud perilaku tertentu yang dilakukan pendengar setelah mendengar tuturan
si pendengar. Dengan demikian, umpan balik berfungsi sebagai sistim mengecek respon,
yang jika diperlihatkan si penutur dapat menyesuaikan diri dalam menyampaikan
pesan/tuturan berikutnya. Tentu saja umpan balik ini hanya ada pada komunikasi
yang bersifat dua arah.
Sebagai
alat komunikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek, yaitu aspek linguistik dan aspek nonlinguistik atau
paralinguistik. Kedua aspek ini “bekerja sama” dalam membangun
komunikasi-komunikasi itu. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis,
morfologis, dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya yang akan
disampaikan yaitu semantik (yang dalamnya terdapat makna, gagasan, ide, atau
konsep). Aspek paralinguistik mencakup (1) kualitas ujaran, yaitu pola ujaran
seseorang , seperti falseto(suara
tinggi), staccato (suara
terputus-putus) dan sebgainya. (2) unsur suprasegmental yaitu tekanan (stres), nada (pitch) dan intonasi. (3) jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti
gerakan tangan, anggukan kepala, dan sebagainya. (4) rabaan, yakni yang
berkenaan dengan indera perasa (pada kulit).
Aspek
linguistik dan paralinguistik tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi
bersama-sama dengan konteks situasi membentuk atau membangun situasi tertentu
dalam proses komunikasi. Komunikasi bahasa atau komunikasi yang menggunakan
bahasa sebagai alatnya mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan jenis
komunikasi lainnya, termasuk komunikasi yang berlaku pada masyarakat hewan.
Komunikasi dengan gerak isyarat tangan yang berlaku untuk orang bisu tuli dan
komunikasi membaca gerak bibir yang juga berlaku untuk orang bisu tuli sudah
tidak dapat digunakan lagi dalam keadaan gelap atau tidak ada cahaya, karena
kedua jenis komunikasi itu sangat mengandalkan penglihatan mata untuk menangkap
dan memahami bahasa gerak tangan dan bahasa bibir itu. Sedangkan komunikasi
bahasa masih dapat digunakan meski dalam keadaan gelap sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar