Translate

Selasa, 02 Januari 2018

Komunikasi Bahasa

Dalam setiap komunikasi bahasa ada dua pihak yang terlibat yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima (receiver). Ujaran (berupa kalimat atau kalimat-kalimat)yang digunakan untuk menyampaikan pesan (berupa gagasan, pikiran, saran, dan sebagainya) itu disebut pesan. Dalam ini pesan itu tidak lain pembawa gagasan yang disampaikan pengirim (penutur) kepada penerima (pendengar). Setiap proses komunikasi bahasa dimulai dengan si pengirim merumuskan terlebih dahulu yang ingin di ujarkan dalam satu gagasan. Proses ini di kenal dengan istilah semantic encoding. Gagasan itu lalu disusun dalam bentuk kalimat atau kalimat-kalimat yang gramatikal, proses pemindahan gagasan ke dalam bentuk kalimat yang gramatikal ini disebut  grammatical encoding). Setelah tersusun dalam kalimat yabg gramatikal, lalu kalimat (yang berisi gagasan tadi) diucapkan. Proses ini disebut (phonological encoding). Selanjutnya proses ini diikuti oleh proses grammatical decoding dan diakhiri dengan proses semantic decoding.

Dalam praktiknya urutan-urutan ini berlangsung dengan cepat. Lebih-lebih jika yang terlibat dalam proses komunikasi itu mempunyai kemampuan berbahasa yang sangat tinggi. Semakin tinggi kemampuan berbahasa dari kedua pihak yang berkomunikasi itu, maka semakin lancarlah proses komunikasi yang sudah di sebut sebelumnya, dapat juga mengalami hambatan karena adanya unsur gangguan, misalnya ketika komunikasi itu berlangsung terjadi kebisingan suara, atau satu pihak yang berkomunikasi mempunyai pendengaran yang kurang baik.

Ada dua macam komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi se arah, si pengirim tetap sebagai pengirim dan si penerima tetap sebagi penerima. Komunikasi searah ini terjadi misalnya dalam komunikasi yang bersifat memberitahukan, khotbah di mesjid atau gereja, ceramah yang tidak diikuti tanya jawab, dan sebagainya. Dalam komunikasi dua arah, secara berganti-ganti si pengirim bisa menjadi penerima, dan penerima bisa menjadi si pengirim. Komunikasi dua arah ini terjadi misalnya dalam rapat, perundingan, diskusi, dan sebagainya.

Bahasa itu dapat mempengaruhi perilaku manusia. Maka kalau si penutur ingin mengetahui respon si pendengar terhadap tuturannya, dia biasa melihat umpan balik, yang dapat berwujud perilaku tertentu yang dilakukan pendengar setelah mendengar tuturan si pendengar. Dengan demikian, umpan balik berfungsi sebagai sistim mengecek respon, yang jika diperlihatkan si penutur dapat menyesuaikan diri dalam menyampaikan pesan/tuturan berikutnya. Tentu saja umpan balik ini hanya ada pada komunikasi yang bersifat dua arah.
Sebagai alat komunikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek, yaitu aspek linguistik dan aspek nonlinguistik atau paralinguistik. Kedua aspek ini “bekerja sama” dalam membangun komunikasi-komunikasi itu. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis, dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya yang akan disampaikan yaitu semantik (yang dalamnya terdapat makna, gagasan, ide, atau konsep). Aspek paralinguistik mencakup (1) kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang , seperti falseto(suara tinggi), staccato (suara terputus-putus) dan sebgainya. (2) unsur suprasegmental yaitu tekanan (stres), nada (pitch) dan intonasi. (3) jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti gerakan tangan, anggukan kepala, dan sebagainya. (4) rabaan, yakni yang berkenaan dengan indera perasa (pada kulit).

Aspek linguistik dan paralinguistik tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi bersama-sama dengan konteks situasi membentuk atau membangun situasi tertentu dalam proses komunikasi. Komunikasi bahasa atau komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai alatnya mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan jenis komunikasi lainnya, termasuk komunikasi yang berlaku pada masyarakat hewan. Komunikasi dengan gerak isyarat tangan yang berlaku untuk orang bisu tuli dan komunikasi membaca gerak bibir yang juga berlaku untuk orang bisu tuli sudah tidak dapat digunakan lagi dalam keadaan gelap atau tidak ada cahaya, karena kedua jenis komunikasi itu sangat mengandalkan penglihatan mata untuk menangkap dan memahami bahasa gerak tangan dan bahasa bibir itu. Sedangkan komunikasi bahasa masih dapat digunakan meski dalam keadaan gelap sekalipun. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar