Translate

Senin, 11 Desember 2017

HAKIKAT BAHASA

HAKIKAT BAHASA
Ciri-ciri yang merupakan hakikat bahasa itu, antara lain, adalah bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis beragam dan manusiawi.

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpolah secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bagi orang yang mengerti sistem bahasa Indonesia akan mengakui bahwa susunan “Ibu meng....... seekor ......... di .......” adalah sebuah kalimat bahasa Indonesia yang benar sistemnya, meskipun ada sejumlah komponen yang ditinggalkan. Tetapi susunan “ Meng ibu se ikan di ikan dapur goreng” bukanlah kalimat bahasa Indonesia yang benar karena tidak tersusun menurut sistem kalimat bahasa Indonesia. Sebagai sebuah sistem, bahasa selain bersifat sitematis juga bersifat sistemis.Sistematis maksudnya bahasa itu tersusun  menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sedangkan sistemis maksudnya sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal melainkan terdiri dari sejumlah subsistem yakni subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, subsistem leksikon.

Sistem bahasa berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi, artinya lambang-lambang itu berbentuk bunyi, yang lazim disebut bunyi ujar atau bunyi bahasa. Setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Umpanya lambang bahasa yang berbunyi [kuda] melambangkan konsep atau makna ‘sejenis bintang berkaki empat yang biasa dikendarai’.

Lambang bunyi bahasa itu bersifat arbitrer, artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengosepi makna tersebut. Secara konkret mengapa lambang bunyi [kuda] digunakan untuk menyatakan ‘sejenis bintang berkaki empat yang biasa dikendarai’adalah tidak dapat dijelaskan. Andaikata hubungan itu bersifat wajib, tentu untuk menyatakan binatang yang dalam bahasa Indonesia itu disebut [kuda] tidak ada yang menyebutnya <jaran> , <horse> atau <paard> . bukti kearbitreran ini dapat juga dilihat dari banyaknya sebuah konsep yang dilambangkan dengan beberapa lambang bunyi berbeda.

Bahasa bersifat konvensional artinya, setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi bungan antara lambang dengan yang dilambangkan. Dia akan mematuhi misalnya, lambang [kuda] yang digunakan untuk menyatakan ‘sejenis bintang berkaki empat yang biasa dikendarai’ dan tidak untuk melambangkan konsep lain.

Bahasa itu bersifat produktif artinya dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Umpamanya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Purwadarminto bahasa Indonesia hanya mempunyai lebih kurang 23.000 buah kata, tetapi dengan 23.000 buah kata itu dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.

Bahasa itu bersifat dinamis Maksudnya, bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja : fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan leksikon.

Bahasa itu beragam artinya meskipun sebuah bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon.


Bahasa itu bersifat manusiawi artinya bahasa sebagai alat komunikasi verbal hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi yang berupa bunyi atau gerak isyarattidak bersifat produktif dan tidak dinamis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar