HAKIKAT BAHASA
Ciri-ciri yang merupakan hakikat
bahasa itu, antara lain, adalah bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi,
bersifat arbitrer, produktif, dinamis beragam dan manusiawi.
Bahasa adalah
sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang
berpolah secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bagi orang yang mengerti sistem
bahasa Indonesia akan mengakui bahwa susunan “Ibu meng....... seekor .........
di .......” adalah sebuah kalimat bahasa Indonesia yang benar sistemnya,
meskipun ada sejumlah komponen yang ditinggalkan. Tetapi susunan “ Meng ibu se
ikan di ikan dapur goreng” bukanlah kalimat bahasa Indonesia yang benar karena
tidak tersusun menurut sistem kalimat bahasa Indonesia. Sebagai sebuah sistem,
bahasa selain bersifat sitematis juga bersifat sistemis.Sistematis maksudnya bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun
secara acak atau sembarangan. Sedangkan sistemis maksudnya
sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal melainkan
terdiri dari sejumlah subsistem yakni subsistem fonologi, subsistem morfologi,
subsistem sintaksis, subsistem leksikon.
Sistem bahasa
berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi, artinya lambang-lambang itu
berbentuk bunyi, yang lazim disebut bunyi ujar atau bunyi bahasa. Setiap lambang
bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Umpanya lambang
bahasa yang berbunyi [kuda] melambangkan konsep atau makna ‘sejenis bintang
berkaki empat yang biasa dikendarai’.
Lambang bunyi
bahasa itu bersifat arbitrer, artinya hubungan antara lambang dengan
yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan
mengapa lambang tersebut mengosepi makna tersebut. Secara konkret mengapa
lambang bunyi [kuda] digunakan untuk menyatakan ‘sejenis bintang berkaki empat
yang biasa dikendarai’adalah tidak dapat dijelaskan. Andaikata hubungan itu
bersifat wajib, tentu untuk menyatakan binatang yang dalam bahasa Indonesia itu
disebut [kuda] tidak ada yang menyebutnya <jaran> , <horse> atau
<paard> . bukti kearbitreran ini dapat juga dilihat dari banyaknya sebuah
konsep yang dilambangkan dengan beberapa lambang bunyi berbeda.
Bahasa bersifat
konvensional artinya,
setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi bungan antara lambang dengan yang
dilambangkan. Dia akan mematuhi misalnya, lambang [kuda] yang digunakan untuk
menyatakan ‘sejenis bintang berkaki empat yang biasa dikendarai’ dan
tidak untuk melambangkan konsep lain.
Bahasa itu
bersifat produktif artinya
dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran
yang hampir tidak terbatas. Umpamanya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Purwadarminto bahasa
Indonesia hanya mempunyai lebih kurang 23.000 buah kata, tetapi dengan 23.000
buah kata itu dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
Bahasa itu
bersifat dinamis Maksudnya,
bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang
sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja
: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan leksikon.
Bahasa
itu beragam artinya
meskipun sebuah bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun
karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar
belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam,
baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran
leksikon.
Bahasa itu
bersifat manusiawi artinya
bahasa sebagai alat komunikasi verbal hanya dimiliki manusia. Hewan tidak
mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi yang berupa bunyi
atau gerak isyarattidak bersifat produktif dan tidak dinamis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar